Terorisme: Saatnya Kita Mengoreksi Diri


Presiden SBY. Saatnya mengoreksi.

Presiden SBY. Saatnya mengoreksi.

Di awal abad ke-21 ini, selain IT, yang mengalami kemajuan signifikan adalah terorisme. Revolusi IT yang tujuan dasarnya untuk memudahkan manusia untuk berkomunikasi tanpa sekat teritori, ternyata telah bermanfaat besar pula bagi kemajuan terorisme. Dalam kontex terorisme, “revolusi (IT) telah memakan anak-anaknya sendiri”. Terbukti, dengan mendayagunakan kecanggihan IT, terorisme telah membuat seluruh komponen di negara kita kalang kabut. Masyarakat tercekam, aparat keamanan kerja siang-malam, presiden marah-marah, dan para tokoh masyarakat memutar otak kencang untuk mereka-reka kegilaan aksi para teroris.

Para Elite Sibuk Berpesta

Terorisme itu, yang mulai marak sejak Indonesia memasuki era demokrasi, telah tumbuh makin berakar dan berotot. Perkembangan negara ternyata tak mampu mengatasi pertumbuhan gerakan radikal yang konon dimotori dua gembong asal Malaysia, Dr. Azahari dan Noordin M Top, serta generasi baru gerakan NII itu. Gerakan radikal ini telah mampu menyusup ke simpul-simpul terkecil masyarakat, merekrut kader-kader baru, berbareng dengan ketidakmampuan negara dalam memakmurkan rakyatnya.

Penyebaran paham radikal ini rupanya dapat diterima mulus oleh sebagian masyarakat yang telah putus asa dalam menjalani hidup. Di tengah beratnya mencari nafkah – sementara di birokrasi, korupsi merajalela – sebuah ajaran yang memberi “ketenangan batin” dan fokus, telah merasuk secara sempurna di dalam hati dan pikiran sebagian masyarakat kita. Sesuatu yang terlewatkan dari ambang pikiran para elite negeri yang sebagian besar waktunya habis untuk memikirkan keselamatan posisi diri dan partai masing-masing untuk merengkuh kekuasaan formal.

Setidaknya, dua tahun terakhir ini tatkala para elite sibuk korupsi dan bermanuver untuk pemilu, kelompok teroris yang tidak menyukai demokrasi (yang dikatakan menjiplak kebudayaan Barat) telah menyiapkan rencana aksi mereka dengan tanpa halangan. Bahkan mindset aparat keamanan pun,  telah digiring untuk meladeni persiapan pesta para elite. Akibatnya tahu sendiri, para teroris yang bekerja tertutup, mampu menyetir segala situasi sesuai kemauan mereka.

Saatnya Mengoreksi Diri

Teror bom JW Marriot dan Ritz Carlton Jakarta 17 Juli 2009 lalu dan terusan tindakan-tindakan aparat keamanan, sebaiknya menjadi hikmah para pengelola negara ini untuk mengoreksi diri. Ada beberapa hal yang harus dikejar, untuk mengatasi kekisruhan bangsa, termasuk terorisme.

1. Perbaikan Sistem Politik. Di tingkat kenegaraan, perlu dilakukan kesepakatan ulang mengenai bentuk negara RI. Jika semua setuju NKRI berdasar UUD’45, semua komponen politik harus setuju melaksanakan Pancasila. Pancasila itu satu paket dengan UUD’45. Jangan hapus Pancasila hanya karena kita alergi pada P4 a la Soeharto. P4 boleh kita singkirkan, tapi Pancasila harus kita ejawantahkan.

2. Perbaikan Sistem Hukum. Revisi terhadap UU Terorisme/2003 dengan menambah satu pasal mengenai wewenang aparat keamanan untuk pencegahan terorisme adalah sebuah keharusan. Tanpa wewenang preventif, Polisi (BIN, TNI) hanya akan menjadi “pemadam kebakaran”.

3. Perbaikan Sistem Kemanan dan Pertahanan. Sejak pemisahan Polri dari ABRI, sesungguhnya masih ada loop holes yang belum rampung mengenai pengaturan tata laksana keamanan, khususnya posisi BIN dan TNI dalam tugas-tugas menyangkut terorisme. Dalam sistem pertahanan, elite politik pun belum memberi perhatian memadai terhadap TNI untuk menjaga keutuhan wilayah NKRI. Ini semua harus diselesaikan segera.

4. Perbaikan Ekonomi. Inilah yang paling crucial, karena di mana-mana di dunia ini, kemiskinan adalah masalah paling rawan dalam kontex tumbuhnya paham ekstrim kiri maupun ekstrim kanan. Kalau semua rakyat mendapat pekerjaan (seperti di RRC), otomatis akan membuat orang tak punya waktu menerima paham-paham exklusif yang menyimpang dari tujuan negara dan melenceng dari kemajemukan masyarakat.

5. Perbaikan Komunikasi Sosial. Sejak negara bergeser menjadi fasilitator dari seluruh kegiatan masyarakat, kita telah melupakan kegotong-royongan negara dan masyarakat. Pembinaan moral dan mental bangsa, sungguh menyedihkan hanya dipasrah-bongkokkan kepada tokoh-tokoh masyarakat, tanpa dukungan dana dan fasilitas dari negara. Memangnya sebuah kumpul-kumpul mengundang ulama atau pendeta itu tidak butuh biaya? Memangnya sebuah kerja bakti dan event sosial tidak butuh peran negara (yang memiliki dana begitu besar)? Tidak semua kegiatan harus dicantelkan dengan sponsorship swasta. Depdagri dengan Kesbang-nya serta Departemen Sosial sudah seharusnya digerakkan untuk terjun ke simpul-simpul masyarakat, untuk melakukan pelurusan-pelurusan. Para pejabatnya jangan hanya bisa memantau dan menganalisis di kantor. Mereka harus terjun langsung ke masyarakat.

6. Perbaikan Tingkah Laku Elite. Masyarakat sesungguhnya telah muak dengan gaya berpolitik para elite yang untuk berdiskusi di muka kamera saja saling menyerobot, seperti tidak punya fatsoen sebagaimana diwariskan para politisi senior kita. Tingkah laku sebagian “all the President’s men” dalam berkomunikasi adalah contoh terburuk dari tingkah laku para elite dewasa ini. Gaya Andi Malarangeng yang lebih sering menggonggong daripada menjelaskan atau menyejukkan, mestinya mendapat teguran dari presiden. Ia menunjukkan dirinya begitu arogan, fatalistik, berpandangan sempit (asal bela bos) dan mau menang sendiri. Sudah dapat dirasakan, dewasa ini elite di luar penguasa menyimpan rasa sakit hati terhadap tangkisan-tangkisan arogan para pembantu presiden dalam beberapa hal – sesuatu yang tidak dapat selesai hanya dengan menawarkan kursi di kabinet. Tingkah laku tidak sopan dan immature adalah pelajaran buruk bagi rakyat.

7. Perbaikan Media. Media massa, utamanya televisi, semestinya mengkaji ulang peranannya. Jaman memang tak dapat ditarik mundur, tetapi kekuasaan nyata yang mereka pegang, seharusnya tidak digunakan sembarangan dengan menerapkan jurnalisme sembrono (spekulatif, bombastis, kurang akurat, kurang mempertimbangkan efek komunikasi dari suatu pemberitaan). Pendekatan rating point dalam programming, seyogyanya diimbangi dengan kearifan. Ingat donk, nasib bangsa sedang melaju ke ujung tanduk.

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: