Hasil Survei dan “Bandwagon Effect”


Ketika Malarangeng bersaudara mengumumkan tingkat elektabilitas para capres hasil survei LSI (Lembaga Survei Indonesia), Jumat, 05/062009, sedikitnya ada dua hal yang dapat dimaknai. Pertama, siapa yang membiayai survei; kedua, apa tujuan publikasi hasil survei tersebut.

train2 crop biggerYang pertama, seperti diberitakan, pemesan atau pembayar survei LSI  tersebut adalah Fox Indonesia, yang artinya beban biaya survei itu kemudian akan di-charges oleh Fox ke kliennya, yaitu tim incumbent SBY. Yang kedua, tujuan publikasi hasil survei tersebut, kiranya bisa ditengarai sebagai upaya “bandwagon effect” – mengekspos keunggulan elektabilitas SBY-Budiono hasil survei LSI (71%) melalui media massa agar tercipta pendapat umum bahwa SBY-Budiono (akan keluar sebagai) pemenang pilpres 2009, dan pendapat umum itu diharapkan membuahkan dampak gelombang pemilih yang masih ragu untuk berduyun-duyun bergabung dengan sang “pemenang”. Gelombang publik yang kemudian bergabung itu disebut “jump on the bandwagon”.  Seperti kita ketahui, hasil survei LSI itu mencatat, pasangan Megawati-Prabowo berada di urutan kedua dengan 16% dan JK-Wiranto 7%.

Asal muasal

Fenomena “bandwagon effect” bermula di tahun 1800-an ketika seorang tokoh penghibur dan badut kondang bernama Dan Rice melakukan kampanye promosi grup sirkusnya dari satu ke kota lain dengan menggunakan kereta api (di Indonesia mungkin “Safari Ramadhan” Harmoko). Gerbong-gerbong kereta mengangkut lengkap seluruh anggota kelompok Dan Rice, termasuk kelompok musik (band), pemain sirkus, dll. Kampanye (safari) Dan Rice itu mendapat  sambutan meriah di kota-kota yang dikunjunginya.

Pada tahun 1848, di masa keemasannya, Dan Rice mengabdikan diri untuk berkampanye bagi calon presiden Zachary Taylor – seorang pahlawan perang dengan pengalaman 40 tahun dalam kemiliteran AS dan ikut dalam peperangan penting seperti “Black Hawk War”, 1812. Kampanye menggunakan kereta api yang digalang Dan Rice lengkap dengan kelompok sirkusnya, ternyata menjadikan capres Zachary sangat terkenal di kalangan rakyat. Kesuksesan itu membuat para politisi berbondong-bondong bergabung dalam gerbong-gerbong kampanye Zachary, mengharapkan mereka dianggap bagian dari kesuksesan sang capres. Di saat itulah dikenal istilah “jump on the bandwagon” untuk menggambarkan perilaku para politisi yang ramai-ramai mengaitkan diri ke “calon pemenang” pilpres.

Akhirnya, pada jaman capres Demokrat Bryan William Jeannings, 1896, “bandwagon”  telah menjadi standar dalam kampanye para capres di AS. Sejak jaman itulah “jump on the bandwagon” digunakan sebagai olok-olok manakala terjadi fenomena banyak orang berduyun-duyun bergabung atau mengaitkan diri mereka kepada suatu “kesuksesan” seseorang, tanpa memahami apa alasan mereka bergabung.

Kendatipun  menjadi olok-olok, taktik “bandwagon effect” sampai hari ini tetap digunakan oleh praktisi komunikasi pemasaran (termasuk pemasaran politik) dan media massa untuk mengocok psikologi dan perilaku massa. Di AS, “bandwagon effect” menjadi penting dalam pilpres pendahuluan karena pemungutan suara dilakukan berbeda waktu antara negara bagian satu dan lainnya. Pemungutan suara di negara bagian Iowa dan New Hampshire biasanya mendahului negara-negara bagian lainnya. Ini seringkali mempengaruhi pemilih di negara bagian yang lebih belakangan memungut suara. Seorang capres yang menang dalam pemilu di wilayah yang lebih dulu memungut suara, biasanya akan memperoleh “Big Mo” (big momentum) untuk menang di wilayah yang belakangan memungut suara. Di sinilah peran media massa menjadi penting untuk terjadinya “jump on the bandwagon”.

Di pihak lain, “bandwagon effect” sangat sering digunakan untuk kepentingan bisnis. Contoh paling terang adalah klaim seperti “nomor satu di Amerika, nomor satu di dunia” bagi sebuah merek, yang bertujuan untuk membuat semua khalayak sasaran mempercayai ‘fenomena’ atau proposisi itu. Penghargaan gelar “best brand” kepada merek-merek produk dalam masing-masing kategori oleh sebuah lembaga survei, termasuk dalam upaya “bandwagon effect”.

Kereta SBY

Dalam kaitan pelansiran hasil survei LSI, 5 Juni lalu itu, reaksi pertama yang keluar dari pihak pasangan JK-Wiranto dan Mega-Prabowo seragam: “Siapa yang membiayai survei itu?” atau “Itu survei pesanan”. Reaksi yang dapat diartikan, survei LSI itu hanya untuk menyenangkan pemesannya. Dari kacamata “perang komunikasi”, yang lebih penting sesungguhnya, menyimak apa tujuan dan apa akibat dari pelansiran hasil survei LSI tersebut bagi yang terkena, ketimbang mempersoalkan “siapa yang membiayai survei tersebut”. Setiap survei tentu membutuhkan biaya, dan biaya sebuah survei terhitung kecil dibanding keseluruhan dana kampanye yang digunakan  untuk kampanye seorang capres. 

Ketika Choel Malarangeng mengatakan hasil survei LSI itu mereka butuhkan untuk mendapatkan “political landscaping”, maka ia sedang bersandiwara untuk menutupi tujuan yang sesungguhnya, yaitu memainkan “bandwagon effect”. Permainan “bandwagon effect” tim sukses SBY, nampaknya dipersiapkan cermat, karena malamnya dalam sebuah talkshow di televisi, salah satu anggota Demokrat (Max Sopacua)  melemparkan wacana “pilpres satu putaran” – yang lagi-lagi membuat kubu dua capres lainnya sewot. Jadi, hari itu (5Juni, 2009) publik diberi dua buah “proposisi” yang saling berkaitan: elektabilitas 71% (yang) akan menjadikan pilpres cukup satu putaran. Proposisi-proposisi tersebut dilansir dengan harapan para pemilih akan menyetujui, dan berbondong-bondong naik ke kereta SBY.  

Taktik komunikasi “bandwagon effect” sebaiknya dilawan dengan taktik yang sama, paling tidak untuk menetralisir situasi. Bukan dengan reaksi-reaksi yang tidak ada hubungannya dengan strategi dan eksekusi komunikasi. Pihak JK-Wiranto telah melakukan serbal (serangan balik) dengan merilis hasil survei LRI. Itu adalah tindakan yang benar. Jika mau digali, masih banyak taktik-taktik komunikasi di luar “bandwagon effect” yang bisa digunakan untuk kampanye presiden. Dan itu membutuhkan orang-orang  yang paham dan tajam soal komunikasi.

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: