By the Way, Malaysia adalah Musuh Kita


SURIS4 CROP gayscale SMALLMalaysia bukan sahabat Indonesia. Malaysia adalah musuh Indonesia. Pernyataan saya ini mungkin bagi para diplomat dan pengamat kita yang penyabar, penuh pengertian terhadap kerukunan bertetangga dan santun, dianggap provokatif.

Berusaha terus sabar, penuh pengertian, tetapi tumpul reaksi – itulah ‘tabiat’ pemimpin-pemimpin kita sejak jaman orde baru terhadap provokasi demi provokasi yang dilakukan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Entah mengapa, rezim Soeharto mendidik para administratornya menjadi penyabar (dan terkesan kecir atau penakut) walau kedaulatan NKRI dalam ancaman. Sebaliknya mereka sangat garang terhadap rakyatnya sendiri.

Politik Konfrontasi Sukarno

Presiden Sukarno (kanan) dan jenderal Soeharto

Presiden Sukarno (kanan) dalam rapat kabinet. Malaysia bagian dari Nekolim.

Politik konfrontasi Presiden Sukarno terhadap Malaysia 1963-1966 yang dikenal sebagai “Ganyang Malaysia”, sampai sekarang kerap digambarkan sebagai tindakan berlebihan pribadi Sukarno terhadap Tunku Abdul Rachman sang pendiri Malaysia. Keengganan AD (angkatan darat) di bawah Letjen Ahmad Yani untuk terlibat penuh dalam “Ganyang Malaysia” telah disulap oleh “sejarah” orde baru sebagai langkah tepat. Dalam konteks perbandingan kekuatan militer Indonesia dengan gabungan sekutu Inggris, Australia, Selandia Baru, perhitungan Yani logis adanya. Di samping itu, pergulatan politik di dalam negeri antara PKI dan pihak AD, menjadikan AD tak mau terjebak untuk mengirimkan seluruh kekuatannya di perbatasan, yang berarti mengosongkan Jawa. 

Namun, dengan meletusnya peristiwa G-30-S disertai pembunuhan terhadap tujuh perwira AD (termasuk Pangad letjen Ahmad Yani sendiri), serta rangkaian kejadian-kejadian  setelah itu, patut diduga ada skenario besar untuk menumbangkan Sukarno dari kepemimpinan nasional dan panggung dunia. Kita tahu semua, sejak 1 Oktober 1965 hingga 32 tahun kemudian, Jenderal Soeharto menjadi orang nomor satu dan paling ditakuti di Indonesia.

“Malaysia adalah bagian dari Kekuatan Nekolim yang mengepung kita,” kata Sukarno. Suatu statement yang jadi  bahan olok-olok  rezim Soeharto terhadap rezim pendahulunya. Soeharto begitu percaya pada bantahan orang Inggris-Australia-Malaysia-Amerika terhadap konstatasi Sukarno. Masih menjabat Waperdam, Soeharto telah menghentikan perselisihan Indonesia-Malaysia. Bagi terciptanya perdamaian dunia, hal itu sungguh terpuji. Namun, perwira tinggi minim pendidikan formal itu pasrah bongkokan kepada ‘kebaikan’ Barat. Ia dan konco-konconya bahkan tidak sedikitpun menyimpan “reserve” terhadap Malaysia atau Singapura. Berpuluh tahun kemudian, sebagaimana konstatasi Bung Karno, terbukti “Malaysia memang boneka Nekolim”. Pasca Soeharto, Malaysia kelihatan aslinya: selalu mengganggu kedaulatan Indonesia – sebuah negara yang kekuatannya telah digembosi secara sistemik oleh pemimpinnya sendiri, Jenderal Soeharto.

Benarkah Soeharto Disegani Malaysia?

Presiden Soeharto di awal kekuasaannya

Presiden Soeharto di awal kekuasaannya. Terlena oleh puja-puji.

Pembaca mungkin masih ingat, waktu jaman orde baru, para penguasa Indonesia selalu menggambarkan bahwa Presiden Soeharto adalah pemimpin cinta damai yang disegani di ASEAN. Lebih jauh, Soeharto digambarkan sebagai tokoh yang sangat dihormati oleh Singapura dan Malaysia. Maka dibuatlah skenario, perdana menteri Malaysia dan Singapura melakukan “sowan rutin” kepada Soeharto di Batam, Jakarta, dsb. Di tangan pemimpin cerdik sekelas PM Mahathir Mohammad dan PM Singapura Lee Kuan Yew, image “kebesaran Soeharto” tersebut terus dipelihara. Soeharto dan seluruh rakyat Indonesia terpesona oleh kesantunan dan sikap brotherhood Mahathir dan Lee terhadap Indonesia. Padahal, kedua pemimpin negara tetangga itu, terutama Mahathir, sedang merancang strategi jangka panjang untuk menggebuk Indonesia.

Mahathir saat menjenguk Soeharto. Senyumnya mempesona, penuh tipu daya

Mahathir (kanan) menjenguk Soeharto. Senyumnya penuh tipu daya.

Soeharto yang diagung-agungkan sebagai “bapak pembangunan”, sialnya bagi bangsa ini, ternyata membawa gelombang budaya korupsi ke seluruh negeri. Militer sebagai penopang utama, diajari oleh Soeharto cara-cara berbisnis dengan modus kotor, sehingga tidak mengherankan para jenderal di jaman orde baru kehilangan kesadaran akan kemampuan militer negaranya yang makin lama makin merosot. Bayangkan, ketika ekonomi kita tumbuh fantastis 8-12%, Indonesia hanya membeli 2 skuadron A-4 Skyhawk bekas dari Israel, setelah sebelumnya mendapat hibah pesawat-pesawat Sabre dari Australia. Kemudian membeli F-5E Tiger ex perang Vietnam dan MK Hawk, ketika Malaysia dan Singapura telah memperkuat skuadron angkatan udara mereka dengan pesawat F-16 fighting falcon . Ketika kita mulai membeli (dimulai dari dua buah) F-16, Malaysia melengkapi kekuatan  udaranya dengan Mig-29 dan Sukhoi-27. Kekuatan armada tempur laut kitapun jumlahnya kurang memadai dibanding wilayah yang harus dikawal. Jadi, dibanding mantan musuh kita (Malaysia dan Singapura) kekuatan  angkatan perang kita jauh ketinggalan, padahal presiden kita seorang jenderal besar yang konon ahli strategi. Masih beruntung korps angkatan laut dan marinir kita masih mampu memelihara kapal-kapal tua dan tank-tank amphibi eks Trikora.

Pada jaman orde baru (dikhawatirkan hingga saat ini), diragukan para pemikir di Hankam, Deplu dan BAKIN membuat analisis-analisis kritis terhadap Malaysia dan Singapura. Sebaliknya, pemerintah yang didukung Golkar selalu menghembuskan bahaya laten komunis dan bahaya dari utara, China. Padahal, di jaman “keemasan Soeharto” itulah, dipastikan orang-orang Malaysia tengah mempersiapkan “bom-bom waktu” yang akan mereka ledakkan di masa pasca Soeharto. Kita, waktu itu lupa, Soeharto makin lama makin tua, Indonesia makin mendekati “negara gagal”, sementara tetangga-tetangganya makin makmur.

“Bom Waktu” Meledak Satu Demi Satu

Tahun 1998 Soeharto tumbang secara menyedihkan. Dia kuwalat atas nafsu “immortality”-nya terhadap kekuasaan. Maka tibalah momentum mengerikan: Malaysia mulai ‘belagu’ pada Indonesia. Padahal, jauh-jauh hari  Bung Karno telah mengingatkan: “Malaysia adalah boneka Nekolim”. Sekali boneka Nekolim tetap boneka Nekolim.

Di jaman Soeharto, pernahkah  Malaysia mengusik soal TKI yang membanjiri perkebunan-perkebunan kelapa sawit,  proyek-proyek properti, serta rumah-rumah warga mereka? Tidak. Sebaliknya justeru Malaysia dengan sengaja mengijinkan TKI-TKI ilegal masuk ke negerinya. Rupanya itu adalah bagian dari strategi Malaysia untuk menjebak Indonesia dalam perang urat syaraf yang menyulitkan dan melelahkan. Buktinya, sesaat Soeharto tumbang, pemerintahan baru Indonesia mulai merasakan “the Malay-strategy”. Ratusan ribu TKI diusir oleh Malaysia. Malaysia paham benar, para pemimpin Indonesia  di masa transisi yang hingar bingar dan tetap penuh korupsi, akan kerepotan menghadapi masalah TKI. Bahkan “bom waktu” tersebut menjadi “bom napalm” karena pengusiran TKI yang menumpuk di Nunukan dan Batam, oleh Malaysia telah disusupkan para ulama fundamentalis Indonesia yang di jaman Soeharto diburu di negerinya sendiri (dan lagi-lagi, ditampung oleh Malaysia) termasuk master-master teror warga Malaysia alumni perang Afghanistan yang kelak memegang peranan penting dalam bertubi-tubinya teror bom di berbagai kota kita. Di pihak lain, penambangan pasir di kepulauan Riau yang juga melibatkan militer kita bertahun-tahun, ternyata telah berandil pada bertambah luasnya daratan Singapura, dan dengan demikian bertambah pulalah batas laut mereka. Indonesia telah dikadali oleh tetangga serumpun, ditambah pula diusik oleh tetangganya di selatan, Australia yang dipimpin PM John Howard, khususnya untuk masalah Timtim. Lengkap sudah, Indonesia dijepit negara-negara Nekolim – persis kekhawatiran Bung Karno.

Sipadan dan Ligitan, Ambalat, …………. (?)

Kapal TLDM: melanggar di Ambalat

Kapal TLDM: melanggar wilayah RI di Ambalat.

Di balik senyum indah seorang pemimpin Malaysia berdarah Melayu-Pakistan bernama Mahathir, yang masih fit saat Soeharto memilih “sakit” di Cendana, Pulau Sipadan dan Ligitan direbut dari Indonesia dengan gemilang. Perebutan Sipadan-Ligitan adalah persiapan yang matang dari Mahathir dan administrasinya, terbukti dari kesiapan mereka menghadapi mahkamah internasional, saat mana juru-juru runding Indonesia sangat kocar-kacir dalam memenangkan perkara. Kita terperangah, Malaysia merebut dua pulau yang sejak 1969 oleh Malaysia dan Indonesia dianggap status quo untuk dirundingkan. Malaysia telah memenangkan perang Sipadan Ligitan dengan nilai kejutan tinggi – sebanding dengan serbuan Jenderal Eisenhower ke pantai Normandia tatkala menaklukkan Jerman. Jujur saja, lepasnya Sipadan dan Ligitan tidak bisa dilepaskan dari kesalahan besar pemerintahan Soeharto yang terlena oleh puja-puji dan senyum palsu pemimpin-pemimpin Malaysia, yang dirasakan oleh Soeharto cs sebagai lampu hijau untuk terus korupsi.

Prajurit TNI-AL menjaga kedaulatan RI di blok Ambalat.

Prajurit TNI-AL menjaga kedaulatan RI di blok Ambalat.

ABRI yang lebih senang memikirkan bisnis, ternyata kehilangan determinasi untuk mengontrol seluruh wilayah NKRI. ABRI tak mampu mendeteksi pembangunan fisik besar-besaran di dua pulau terluar kita (Sipadan dan Ligitan) oleh Mahathir selama bertahun-tahun. Pembangunan Sipadan dan Ligitan akhirnya menjadi salah satu plus point  Malaysia dalam merebut kemenangan, yaitu Malaysia telah melakukan penguasaan efektif dan membuat rakyat di kedua pulau tersebut hidup makmur! Menangislah sepuasnya, bangsaku. Sesal kemudian tak berguna, begitu kata pepatah Melayu.

Tipu Malay berikut adalah … pemindahan patok-patok perbatasan ke dalam wilayah Indonesia di Kalimantan, yang sampai hari ini, disikapi kurang serius oleh petinggi-petinggi militer kita, karena wilayah di mana patok-patok itu berdiri adalah “ladang emas” oknum-oknum militer dan polisi untuk illegal logging – yang ironisnya dicukongi orang-orang Malaysia. Mata jeli Malaysia yang melihat Indonesia sebagai negara yang para pejabatnya bermental bobrok, menggugah nafsu mereka merebut blok Ambalat. Blok Ambalat yang kaya kandungan minyak dan gas bumi, yang jelas-jelas berada dalam teritori RI, oleh Malaysia  dianggap bagian dari wilayahnya. Dengan yakinnya (ini lagi-lagi strategi licik Melayu) mereka telah menunjuk Shell sebagai kontraktor untuk penambangan minyak di blok Ambalat. Inilah “penodongan” a la Sipadan Ligitan.

Nah, alangkah tololnya kalau kita sebagai bangsa kali ini kalah lagi. Tak usah tanya kesiapan rakyat Indonesia untuk berperang melawan musuh. Kendatipun sampai kini puluhan juta orang Indonesia hidup miskin, tidak satupun ada yang ragu untuk membela negaranya. Persoalan serius justeru datang dari para pemimpin  kita yang selama 32 tahun terlatih kecir, rendah diri, gagap bicara terhadap masalah-masalah yang mengganggu kedaulatan negara. Dalam konteks ini, kampanye SBY yang membanggakan masih tegaknya kedaulatan RI dari Miangas sampai pulau Rote, menjadi kehilangan makna.

Mengherankan, di jaman negara begitu miskin saja, Bung Karno berani membeli armada-armada tempur udara dan laut, juga peralatan darat canggih – kendatipun dengan berhutang – demi harga diri negara yang terancam oleh kolonial Belanda yang ingin terus mengangkangi Irian Barat. Sekarang ini, kendati negara kita tidak sekaya negara tetangga, bukan berarti Indonesia tidak mampu membeli alutsista yang sepadan dengan kebutuhan. Bagaimanapun miskinnya Indonesia, dengan segala kekayaan sumberdaya alamnya, negara ini masih tergolong sexy bagi para kreditor. Anehnya, di tangan presiden berlatar belakang militer (sebut saja Soeharto, SBY), justeru politik pertahanan Indonesia jadi terseok-seok. Anggaran pertahanan dari jaman Soeharto dipangkas habis-habisan, hanya untuk menyenangkan Paman Sam bahwa Indonesia bukan negara agresor. Sepertinya negara kita tak punya perencanaan jangka panjang terhadap bahaya dari luar.

Sekarang, begitu soal Ambalat mencuat, bukannya para petinggi kita bersikap tegas dan gagah, eh malah minder pada kemampuan persenjataan Malaysia. Dua tahun ke depan, apabila sistem pertahanan Indonesia tidak mengejar ketinggalannya, jangan menyesal jika peta negara kita harus cetak ulang lagi (setelah cetak ulang edisi Sipadan Ligitan). Jika tidak dibarengi pula dengan “cuci darah nasional” dari penyakit kultural korupsi, Indonesia akan terpetil-petil berdasarkan agama, kesukuan dan kemakmuran tetangga. Dan yang akan tertawa-tawa adalah murid-murid Tunku Abdul Rachman – dari Mahathir hingga Najib Razak.

STOP PRESS: Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, Senin (01/06/2009) di Pulau Jeju Korsel menyatakan “kedaulatan Indonesia atas Ambalat adalah harga mati!” Great, Mr. President. Mulai sekarang, Indonesia harus kritis terhadap tindak-tanduk bangsa Malaysia.

Tags: , , , , , , , , , , , , , ,

2 Responses to “By the Way, Malaysia adalah Musuh Kita”

  1. suryodesign Says:

    manstafff ^^

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: