Kala Mantan Capres Menggonggong


rizal mala2 crop

Rizal Malarangeng sang mantan "capres"

Tiba-tiba, Rizal Malarangeng, yang pernah menahbiskan dirinya sebagai “calon presiden” generasi muda harapan bangsa, menyerang Prabowo Subianto, cawapres dari capres Megawati. Tak tanggung-tanggung, sambil menyerang “ekonomi kerakyatan” yang diusung Prabowo, Rizal sekaligus menyindir mantan Pangkostrad itu dengan antara lain berkata … “Yang jelas, ekonomi kerakyatan baru bisa dipimpin oleh orang-orang yang tidak punya kepentingan, yang tidak memiliki cacat dalam track record-nya.”  (detikcom)

Rizal Malarangeng, yang konon bicara sebagai salah satu tim sukses SBY itu, melontarkan kritik pada Prabowo Subianto saat jumpa pers di Bravo Media Center (BMC), Jakarta Pusat, Senin, 25/05/09.

Lebih lanjut Rizal Malarangeng menyarankan Prabowo Subianto berintrospeksi. “Tentang ekonomi kerakyatan, orang punya track record seperti apa yang bisa berbicara seperti itu. Pak Prabowo punya 98 kuda, sampai-sampai ada tiga kuda yang dibelinya seharga Rp 3 miliar…Jadi jangan cuma retorikalah,” sindir adik kandung Andi Mallarangeng.

Belum puas, mantan capres yang setahun lalu muncul ‘kemlinthi’ di Metro TV ini menyinggung pula karir Prabowo yang dipecat dari TNI. “Jadi tanyakan kepada Pak Prabowo, sejarah hidup anda bagaimana sehingga anda bilang pro ekonomi kerakyatan. Kalau Pak SBY dan Boediono kan ada buktinya,” tambah Rizal.

Fatsoen Politik

He he … hare gene, ketika Partai Demokrat menyombongkan diri sebagai kelompok politisi yang menjunjung fatsoen atau sopan santun politik, pernyataan Rizal Malarangeng sangatlah kontradiktif. Dilihat dari peranannya sebagai “konsultan” komunikasi kampanye SBY/Partai Demokrat, Rizal agaknya sedang memerankan dirinya persis dengan nama perusahaannya (Fox), yakni menggonggong tanpa basa-basi, low context tapi berkebalikan dengan gayanya yang (sok) flamboyan saat dikarbit jadi capres di televisi, dan sungguh-sungguh tidak mencerminkan gelar doktor dan bangsawan yang disandangnya. Padahal masih banyak cara lain untuk melakukan serangan politik yang lebih jitu dan berkelas. Pernyataan ini, pasti akan meninggalkan luka yang akan berkepanjangan bagi kelompok Prabowo/Gerindra. 

Tapi jangan heran, pembaca yang budiman. Di hari yang sama, Presiden SBY, sang incumbent, juga sama-sama melakukan serangan ke cawapres Prabowo dengan …  “janganlah menghembuskan angin surga (soal ekonomi kerakyatan)”. Point berikut, sama seperti yang dikatakan Rizal Malarangeng, SBY mengatakan, “Jangan cuma memberi angin surga, tapi buktikanlah paling tidak dalam 5 -10 tahun terakhir (track record Anda/Prabowo).” 

Kata kuncinya adalah “bukti” dan “track record”! Mereka, Presiden SBY dan Rizal Malarangeng, lupa, track record bidang ekonomi, sudah pasti hanya dimiliki oleh yang pernah jadi presiden atau menteri terkait. Kalau serangan SBY ditujukan pada paket Mega-Prabowo, mengapa tidak tegas mengatakannya. Lima tahun yang lalu, SBY pribadi  juga tak punya track record ekonomi, kecuali menjadi Mentamben dan Menko Polkam yang dalam perjalanannya, kisruh dengan 2 presiden (Gus Dur dan Megawati). Kedua doktor itu juga lupa, ketika Barack Obama menawarkan “jalan kiri” kepada perekonomian Amerika untuk mengendalikan liarnya para bankir dan penjudi pasar modal, tawaran Obama berupa sebuah konsep (yang tentu bisa diukur), tetapi belum ada buktinya karena Obama belum jadi presiden dan tidak pernah jadi pengusaha. Jadi, substansi dan gaya komunikasi seseorang yang mengaku intelektual, hendaknya berjalan seiring dengan jabatan, posisi dan gelarnya. Politik, bukan alasan untuk orang berbicara seperti “preman jalanan”. Kalau orang lain seperti “preman”, apa orang yang mengaku “santun” harus meladeni dengan gaya yang sama?

Tak perlu defensif dengan track record-lah, wong rakyat juga akan tau sendiri siapa yang cuma basa basi dan siapa yang sungguh-sungguh.  Tak perlu marah kalau dibilang penganut NeoLib, wong sesungguhnya rakyat, dan banyak orang pintar belum tau arti binatang “NeoLiberal”. Sesungguhnya, yang perlu SBY dan pendukung-pendukungnya antisipasi justeru kelemahan-kelemahan kasat mata pemerintahan SBY-JK, seperti banyaknya pengangguran, beratnya hidup rakyat jelata sektor informal yang 100 persen survive tanpa perlindungan, tanpa bantuan, tanpa jaminan – mereka yang tidak tersentuh PNPM Mandiri! SBY juga harus menjawab mengapa masalah Lumpur Lapindo sudah 3 tahun tak selesai-selesai. Mengapa panitia lelang di departemen-departemen, kalau tidak 100 persen, ya nyaris semuanya berkolusi dan berskenario menentukan pemenang lelang – sebuah reformasi birokrasi yang omong kosong!

Jika pernyataan capres lain dianggap ngawur dan menyerang, tugas capres yang diserang adalah mengoreksi, meluruskan  dan memberi pencerahan kepada rakyat pemilih. Begitu juga tugas pendukung capres (terutama yang bangga berada di tim sukses) adalah membuat counter yang sepadan, bukan serangan yang over killing, yang justeru berpotensi menjadi boomerang. Jadilah pemain yang “enak ditonton”, karena hakikat kompetisi bukan hanya soal “menang atau kalah”, tetapi juga bagaimana sang juara meraih  kemenangan itu sendiri.  

“Bulldog” Politik

Kepada para pendukung capres-cawapres siapapun, janganlah Anda berperilaku berlebihan dengan memuja capres-cawapres  yang Anda dukung seolah seperti dewa-dewa tanpa cacat, hingga teramat sangat tabu dikritik orang. Pendukung capres adalah ujung tombak untuk membujuk sekuat-kuatnya rakyat pemilih untuk memilih capres bersangkutan. Sebaliknya, pendukung capres juga berupaya menisbikan kelemahan capresnya di kalangan rakyat dengan cara persuasif pula, bukan dengan kekerasan verbal maupun laku.

Over-acting dan sikap kultus individu dari pendukung capres cenderung melahirkan “bulldog-bulldog” politik. Dan pembaca yang budiman, kesetiaan bulldog betulan lebih bisa dipegang ketimbang kesetiaan “bulldog” politik, karena biasanya “bulldog” politik ini, belum juga tuannya tumbang,  ia sudah pindah ke tuan yang lain tanpa pamit. Di tuan yang baru, sang “bulldog”  akan menggonggong lebih galak dari orang-orang lama. Negeri ini, amit-amit, jangan sampai deh dipimpin (kendatipun tingkat menteri) oleh “bulldog-bulldog” politik yang gonggongannya lebih kuat daripada kerjanya.

Tags: , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: