SBY seperti Mulyadi, JK seperti Iie Sumirat


Rudy Hartono, speed and power game

Rudy Hartono, speed and power game

Ingat Mulyadi dari kampung Rambipuji Jember? Ia pemain tunggal Indonesia yang 4 kali menyumbangkan tenaganya untuk negerinya di Piala Thomas (1964, 1967, 1970, 1973). Mulyadi, adalah type pemain rally, yang hobinya mengocok lawan-lawannya ke pojok jauh kiri, kanan, lalu drop-shot … sampai-sampai Svend Prie dibuat termehek-mehek di Istora Senayan saat Piala Thomas 1973. Padahal saat itu Rudy Hartono tumbang di tangan pemain termeperamental Denmark itu. Pukulan smash Mulyadi tidak ciamik. Kecepatannya juga di bawah Rudy maupun Cun Cun. Tapi, uletnya naudzubillah min zalik. Ia mengejar ke mana bola jatuh, dan mengembalikan shuttle cock ke pojok-pojok yang membuat tulang punggung kecetit. Ia pemain sabar mandraguna. Mulyadi, walaupun catatan sejarah kita jarang menulisnya, adalah pebulutangkis yang jarang kalah dalam pertandingan internasional. Yang meniru gaya Mulyadi adalah Icuk Sugiarto, sang juara dunia pertama Indonesia. Tapi bedanya, Icuk lebih banyak kalahnya daripada menangnya.

Dalam pilpres 2009 ini, gaya rally Mulyadi yang selalu membuat lawan-lawannya lelah dan frustrasi, menitis ke SBY.  Gaya nge-lob dan dropshot, terus dimainkan konstan oleh SBY, seolah (seperti Mulyadi) ia ingin menunjukkan staminanya yang prima sambil bergumam “catch me if you can” kepada lawan-lawannya. Bahkan SBY seperti menunggu para kompetitornya untuk mengumumkan pasangan gandanya, untuk kemudian ia akan menyebut nama cawapresnya setelah itu.

Gaya rally itulah yang membuat Iie Sumirat … eh Jusuf Kalla meradang dan menyindir, “menunggu itu melelahkan/membosankan”. Iie Sumirat, Anda pasti masih ingat, gaya permainannya setype Mulyadi, dengan kelebihan pukulan flick  (kedut) dan gerakan-gerakan tipu yang lebih energik, yang membuat 2 pemain China terkemuka Hou Chia Chang dan Tang Hsin Hu tersungkur di Bangkok (1976), dan Svend Prie megap-megap di Senayan (1979). Kalau Mulyadi cool, Iie meledak-ledak di lapangan maupun di luar lapangan. More or less, gaya Iie Sumirat hampir sama dengan gaya JK. Lincah, cepat bereaksi, energik, dan percaya diri. Tapi, seperti Iie Sumirat, apa yang JK sampaikan, sering membuat orang mengerinyitkan dahi – bukan karena substansinya, tetapi oleh caranya melontarkan ‘bola’, yang penuh kejutan. Itulah gaya yang harus kita syukuri telah memperkaya keberagaman gaya politisi Indonesia.

Rally SBY ternyata diladeni Megawati. Lebih dari bermain rally, bahkan sekarang keduanya sekaligus kebingungan menentukan cawapres. Bukan kebetulan kalau ada kabar Demokrat sedang “pdkt” ke PDI-P, yang tak pelak membuat gemas ganda putra JK-Wiranto. SBY nampaknya bangga pada permainan rallynya, sebagaimana disampaikan oleh salah satu adipati Demokrat, Anas Urbaningrum, yang cara bicaranya dimirip-miripkan SBY. Gaya rally SBY dibanggakan, karena ia membuat curiousity orang makin tinggi. Gaya yang mengundang teka-teki, kapan bola-bola lobnya akan ditamatkan menjadi smash mematikan bagi para pesaingnya.

Padahal kalau mau jujur, Indonesia sekarang ini sedang sangat membutuhkan pemimpin yang setara dengan gaya permainan Rudy Hartono – speed and power game, dipadu dengan netting, dropshot dan rally yang anggun – yang terbukti mampu mencetak prestasi gemilang.

Tags: , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: