Balada Seorang Antasari


Sedih hati saya mendengar Ketua KPK Antasari Azhar (AA) ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, dirut Putra Rajawali Banjaran (PRB), 4/05/09. Dapat dibayangkan betapa berat beban yang harus dipikul AA dan keluarganya. Dari seorang pejabat tinggi yang sangat dikagumi dan disegani, tiba-tiba jadi tersangka pembunuhan, bermotif cinta dan perselingkuhan lagi. Bagi orang yang tak tahan, peristiwa ini bisa mengundang sepoku (bunuh diri demi martabat a la Jepang).

Antasari Azhar

Antasari Azhar (dok. Kompas)

Dari banyak komentar yang muncul di masyarakat, yang mengemuka adalah “ini perkara rekayasa” alias “ada skenario di balik perkara ini”. Walaupun komentar seperti itu terlalu dini, tetapi tak salah juga, lantaran rakyat selama 30 tahun lebih telah ‘terlatih’ oleh kisah-kisah rekayasa dari rezim orde baru, utamanya mengenai peristiwa-peristiwa yang dilakukan oleh pejabat atau keluarga pejabat; juga peristiwa-peristiwa di mana pemerintah menghabisi paksa keberadaan seseorang atau sekelompok orang yang mengganggu stabilitas keamanan.

Sebagai warga negara yang menghormati hukum, mari kita tunggu perkembangan penyelidikan dan penyidikan aparat Polisi, sambil turut menjaga dihormatinya hak-hak hukum seseorang. Bagi AA, Ketua KPK (non aktif) yang kita hormati, barangkali “peristiwa pembunuhan” ini adalah  pukulan terberat dalam kariernya sebagai penegak hukum. Namun, Ketua KPK juga manusia biasa. Dalam kaitan dengan perkara yang sedang hot ini, secara jernih dapat kita telaah segala kemungkinan menyangkut pribadi dan jabatan yang ia sandang,  sbb:

1. Mengingat AA menjabat ketua sebuah institusi “dahsyat” yang membuat para koruptor gemetar, rekayasa politik terhadap perkara Nasrudin yang melibatkan AA bukanlah sesuatu yang mustahil. Namun, mengingat banyak hal bisa disangkut-pautkan dengan AA, maka tujuan rekayasa itu menyebar, karena sebagai Ketua KPK, AA paling tidak punya berbagai kaitan, seperti partai pendukungnya saat fit and proper test, belum lagi kiprahnya menjebloskan koruptor-koruptor dari parlemen dan pemerintahan pusat sampai daerah, termasuk juga tindakannya yang agak lamban dalam menangani suatu perkara (laporan anggota PDI-P Agus Condro tentang suap ke anggota DPR oleh petinggi BI), dll lagi. Kalau perkara pembunuhan ini merupakan rekayasa politik, kita akan menjumpai kasus yang teramat sangat sulit untuk dibongkar sebagaimana kasus pembunuhan aktivis HAM Munir. 

2. Sebuah rekayasa (skenario) bisa juga merupakan pengembangan dari satu blunder yang dibuat si obyek. Dalam kasus ini, katakanlah AA ketahuan mengencani RJ (isteri ke-3 Nasrudin yang dinikah siri), maka ‘fakta’ ini merupakan celah bagi pihak yang berkepentingan untuk menamatkan karier AA, dengan misalnya meruncingkan “perselingkuhan” itu menjadi teror dan ancaman yang bikin stres, hingga memancing emosi ybs.

Christine Keeler (foto: wikipedia)

Christine Keeler sang penggoda (foto: wikipedia)

3. Tetapi, perkara ini mungkin juga murni kriminal, yang terjadi karena alasan manusiawi belaka. Dalam usia paruh baya, bukankah seorang lelaki masih mempunyai hasrat syahwat yang normal? Dalam jabatan dan status sosial tinggi, amat mudah bagi seorang lelaki untuk berselingkuh. Dan apakah Anda bisa menjamin seorang lelaki beruban sesekali tidak kepincut pada kecantikan seorang perempuan (muda)? Inilah yang terjadi pada John Profumo, Menteri Pertahanan Inggris, yang menjalin kisah asmara dengan Christine Keeler, seorang artis panggung cantik, yang sialnya adalah pacar seorang atase AL Uni Soviet yang juga mata-mata di London. Akhir dari drama spionase bernuansa asmara itu, John Profumo mengundurkan diri dari kabinet PM Harold Macmillan di tahun 1963. Apakah Anda juga lupa, salah seorang capres kita yang mantan Menko Ekuin, Rizal Ramli, pada saat jadi menteri pun kepincut WIL yang akhirnya dinikahinya? Nafsu syahwat bagi lelaki paruh baya adalah godaan yang sulit dibendung. Bagi seorang ustadz, hasrat syahwat menjadi lebih mudah karena lingkungannya akan mendukung sang ustadz memetik seorang perempuan untuk dikawin siri atau poligami resmi. Tapi bagi orang awam, yang kenalnya hanya hukum perkawinan negara, soal siri dan/atau poligami adalah sesuatu yang besar dampaknya – apalagi bila ia seorang pejabat tinggi. Selingkuh, menjadi jalan keluar atas nafsu syahwat, tapi begitu ketahuan, ia akan menjadi biang malapetaka. Dan itu bisa terjadi pada setiap laki-laki yang telah beranak cucu sekalipun, termasuk AA. Perkara yang nampaknya remeh temeh seperti ini, di tangan seorang pencemburu berbakat preman bisa menjadi tambang uang yang membuat stres obyeknya; dan sebaliknya bisa terjadi pembalasan yang berujung pembunuhan. 

BILA BUTIR 1 dan 2 yang terjadi, maka korban (Nasrudin) kemungkinan besar menjadi salah satu simpul dari keseluruhan skenario, atau hanya sekedar direktur BUMN penggemar ‘daun muda’ yang pencemburu, naif, ambisius, yang dimanfaatkan dengan sempurna oleh dalang rekayasa. Bila butir 3 yang terjadi, itu sangat manusiawi dan masuk akal, termasuk fenomena solidaritas pertemanan yang luar biasa dari seorang pengusaha berkantong tebal yang konon juga anggota intel dan seorang kombes polisi. Tak perlu skenario besarpun, apabila nalar hilang akibat depresi, dan yang bersangkutan tak mampu mengendalikan amarahnya, perilaku seorang buta huruf dan seorang berpendidikan bisa tak ada bedanya.

Kalau Soetrisno Bachir bilang “hidup adalah perbuatan”, maka terhadap perkara pembunuhan Nasrudin, saya melihat “hidup itu sulit diterka”. Kadang, hidup bagai sebuah balada yang memilukan.

Tags: , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: