JK-Win. Why Not?


Pasangan JK-Win (Jusuf Kalla-Wiranto) telah dideklarasikan Jumat, 1/05/09, untuk mengikuti putaran pertama pilpres 8 Juli 2009. Inilah keputusan final (?) dari turbulensi Partai Golkar selama berminggu-minggu terakhir ini.

Pasangan JK-Wiranto (detiknews)
Pasangan JK-Wiranto (detiknews)

Disebut turbulensi, karena partai tertua di tanah air (tidak kita hitung partai-partai politik setelah kemerdekaan yang telah dilikuidasi oleh Presiden Sukarno dan Presiden Soeharto) ini, tak habis-habisnya ribut internal. Sekali waktu marah dan memutuskan “JK for president”, lain kali balik ke “JK for vice president” untuk SBY, lalu “JK for president” lagi, bolak-bolak begitu, dan terakhir “JK-Win” – dalam keadaan sebagian petinggi partai itu masih saja bermanuver untuk berkoalisi dengan Partai Demokrat dan SBY, dengan maksud tetap berada di lingkaran kekuasaan dengan memasang JK atau calon Golkar lain sebagai wapres. Dilihat dari sudut soliditas, Golkar 2009 adalah partai yang rapuh, di mana kepemimpinannya digugat, dan anggota-anggotanya seolah tidak mengenal disiplin organisasi (karena sebagian besar takut terkena post power syndrome).

Kekuatan Rasional

Sejujurnya, secara rasional dua tokoh (JK dan Wiranto) punya kekuatan yang tidak bisa dianggap remeh oleh pasangan lain.

JK, adalah pemimpin yang capable, berpikir dan memutuskan segala sesuatu dengan cepat. Ia pemimpin yang berani menghadapi kritik masyarakat. Kita kerap melihat JK membela kebijakan pemerintah sendirian ketika oposisi dan parlemen mempertanyakannya. Berita Kompas hari ini (3/5/09) memuat “curhat” JK, yang mengatakan ia sering harus menjadi ‘bumper’ pemerintah, ketika anggota kabinet tidak ada yang berani menghadapi potensi konflik dari kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah. Keberanian pasang badan JK ini mungkin yang menjadikan Buya Maarif menjulukinya “the real president” – pujian yang justeru melemahkan citra wapres dalam konteks sistem kenegaraan. Kemampuan menyelesaikan konflik Poso dan Aceh, adalah kualitas lain dari JK, yang menunjukkan JK adalah capres yang punya kualitas “trouble shooter”.

Wiranto jujur mengakui, ia menerima pencalonannya sebagai cawapres berpasangan dengan JK, karena  rasionalitas (realita) politik di mana partainya Hanura hanya menghasilkan 4% suara pada pemilu legislatif, menjadikan ia rela down-graded dari capres menjadi cawapres. Wiranto, eksponen militer yang berpengalaman dalam jabatan militer maupun politik. Memegang jabatan Menhankam/Pangab pada era akhir kekuasaan Soeharto, posisi sama pada pemerintahan Habibie, Menko Polkam pada pemerintahan Gus Dur, tak bisa dibilang ia tidak punya kualitas. Sayang, jabatan-jabatan strategis yang dilakoninya tersebut berakhir tidak mulus oleh konflik politik nasional pada jamannya. Nampak, ia adalah orang yang loyal pada pimpinan, dan dibanding dengan pimpinan militer sebelumnya, ia satu-satunya pimpinan tertinggi militer yang, dengan segala ketertutupan militer, telah berupaya membuka komunikasi dengan masyarakat tentang hal-hal yang diperbuat militer – tidak kita persoalkan apakah yang ia sampaikan benar atau samar (seperti pada masalah penculikan aktivis melalui pembentukan DKP 1999 lalu yang tetap meinggalkan tanda tanya tentang siapa actor intellectual kasus itu). Dalam berkomunikasi, Wiranto sesungguhnya nampak paling matang dibanding SBY maupun Prabowo. Pembentukan Partai Hanura  oleh Wiranto, secara positif menunjukkan perhatiannya (dan saluran yang benar) akan perjuangan melalui politik. Kemenangannya pada Konvensi capres Golkar 2004 menunjukkan ia punya kualitas kepemimpinan yang memadai.

Kelemahan Rasional

Kelemahan JK? Secara umum, sebagai orang yang berperan besar dalam kebijakan ekonomi, JK (dan pemerintah SBY) tidak mahfum akan tumbuhnya kesadaran global untuk memperhatikan perekonomian kecil-menengah dan dengan demikian mengatur ulang kiprah para pemodal raksasa yang telah menguasai seluruh sendi perekonomian (langkah yang justeru telah dilakukan Barack Obama, presiden dari ‘mbahnya” negara liberal). Kecuali kebijakan BLT dan konversi minyak tanah ke gas; tidak satupun upaya dari SBY-JK dilakukan untuk memperkuat struktur dan infrastruktur ekonomi kecil-menengah secara mendasar, termasuk penguatan modal usaha dengan pemberian kredit kepada golongan ini. Maklum, JK adalah pemilik kelompok bisnis raksasa yang bersama kelompok Bakrie, kasat mata menangguk keuntungan dari proyek-proyek mega negara.

Akan halnya Wiranto, purnawirawan jenderal bintang empat ini, masih belum clear benar tentang peran dan tanggung jawabnya dalam beberapa peristiwa nasional saat ia menjabat, utamanya peristiwa kerusuhan 12 Mei 1998, dan kerusuhan Dili pasca jajak pendapat 1999 (lihat juga artikel dalam blog ini, “Profil Purnawirawan Jenderal Capres”). Sebuah confession yang jujur dari hati yang paling dalam (bukan diplomatis, normatif dan basa-basi) dari Jenderal Wiranto terhadap isu-isu yang masih belum memuaskan masyarakat itu, bisa menjadi nilai tambah bagi pasangan JK-Win pada pertarungannya dalam Pilpres 2009. Wiranto mestinya bisa memanfaatkan sifat bangsa Indonesia yang “pemaaf”.

Akankah JK-Win Unggul?

Kalaupun SBY dan Megawati mengumumkan cawapres mereka, sampai hari ini rakyat Indonesia hanya diberi competitive values yang dangkal dari para pasangan capres-cawapresnya, yaitu penampilan fisik dan gaya retorika – persis yang ada pada kontes-kontes “Idola” di  televisi kita. Padahal yang kita harapkan, masing-masing pasangan akan menawarkan konsep-konsep besar yang akan membawa negara Indonesia ke arah kemakmuran. Bukan konsep meneruskan sesuatu yang sudah ada tetapi tidak memberikan dampak terhadap perbaikan kehidupan rakyat yang kian melarat, atau sesuatu yang dangkal dengan mengabaikan borok-borok di depan mata seperti masih kuatnya korupsi di kalangan birokrasi, atau di tingkat paling kecil banyaknya jalan bodol di pinggiran kota. Para capres-cawapres harus ingat, sekarang ini pengangguran terbuka, tertutup dan kaum miskin yang marginalized jumlahnya tak kurang dari 40 juta orang, akibat banyaknya PHK pada industri manufaktur serta makin sulitnya orang mendapatkan pekerjaan – inikah yang dibilang keberhasilan pemerintahan SBY-JK? (baca pula “Menakar Kinerja SBY-JK oleh Faisal Basri, Kompas, 27 April 2009). 

Peluang JK-Win, sementara ini sama dengan cawapres lainnya. Kalau ada 3 pasangan, peluang JK-Win 33,3+%; kalau ada dua pasangan ya 50%. Tapi apakah satu dari ketiga pasangan yang akan terpilih nanti telah memiliki  resep mujarab untuk mengangkat perekonomian rakyat yang menjelang sekarat ini?

Tags: , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: