Apa yang Kau Cari, Prabowo?


Prabowo Subianto

Prabowo Subianto

Prabowo Subianto dinyatakan sebagai salah satu kandidat cawapres bagi capres Megawati Soekarnoputri. Ini “proof ballon” yang dilontarkan Sekjen PDIP Pramono Anung yang dapat dibaca, Gerindra dan Prabowo telah masuk dalam blok koalisi PDIP. Pergeseran bisa terjadi, tapi sampai hari ini, begitulah adanya.

Sebagai pemain baru di kancah politik nasional, Prabowo cukup berhasil. Perolehan Gerindra pada pileg 9 April 2009 (bervariasi antara satu lembaga survei quick count dan lainnya) katakanlah sekarang 4.5%, menjadikannya untuk sementara di urutan ke-8 dari 9 partai yang bakal masuk parlemen. Tak percuma Prabowo telah menggelontorkan dana besar di televisi untuk membangun citra dirinya dan Gerindra.

Prabowo, terlepas dari kontroversinya, adalah sosok eksponen TNI berkualitas. Orang seperti ini, sepantasnya diberi ruang untuk mengaktualisasikan konsepsi dan energinya untuk bangsa ini. Persoalannya, dengan dukungan 4.5% suara yang diperoleh Gerindra, di posisi manakah Prabowo dan Gerindranya pantas berada? Iseng-iseng, saya berlagak jadi pengamat politik. Versi saya, ada tiga pilihan yang bisa diambil Prabowo-Gerindra.

1. Pilihan pertama, menjadi cawapres dari capres Megawati. Pilihan ini mengandung risiko, konsepsi kerakyatan yang didengungkannya melalui kampanye iklan yang super heavy itu menjadi kehilangan makna, lantaran PDIP bukanlah partai yang menawarkan program/konsep yang komprehensif, kecuali program sembako murah dan mengurangi pengangguran. Kalau kemudian pasangan Mega-Prabowo menang, apakah konsep ekonomi Prabowo akan menjadi platform pemerintahan yang baru, masih menjadi tanda tanya besar. Rakyat sudah tahu, Megawati pada hakekatnya  tidak punya konsep. Ia punya keprihatinan akan nasib bangsanya, tetapi tidak jelas mau membawa bangsanya ke arah mana, kecuali menjual jargon “berdikari” milik Bung Karno. Bahkan saat memerintah (2001-2004) ia menjual BUMN-BUMN yang sedang untung, selain menjual gas super murah ke RRC. Belum lagi korupsi merajalela di jamannya. Rakyatpun masih ingat, dalam pemerintahan Megawati, presiden yang sesungguhnya adalah Taufik Kiemas, sang ketua dewan penasehat sekaligus suami Mega. Kesediaan Prabowo sebagai cawapres pendamping Mega dengan sendirinya akan merontokkan moral pendukungnya, yang sesungguhnya sangat potensial untuk dikembangkan lagi menjadi lebih besar untuk 5 tahun ke depan. Bagi orang sekelas Prabowo, tawaran cawapres mendampingi Mega bagaikan gula-gula yang manis sesaat, tapi dikhawatirkan dalam waktu sangat dekat justeru akan menjatuhkan namanya yang sedang menanjak . Maaf untuk pendukung Prabowo, saat ini keinginan Prabowo untuk posisi presiden atau wakil presiden, tidak realistis. Sebaiknya simpan untuk 5 tahun ke depan.

2.  Ada pilihan kedua bagi Prabowo, kalau ia mau sedikit rendah hati, yaitu merapat ke Partai Demokrat (PD) tanpa mengharapkan posisi wapres. Merapat ke PD, mungkin akan terasa ‘menjatuhkan’ harga dirinya, tetapi sesungguhnya makna di balik itu adalah, ia akan menunjukkan jiwa besarnya untuk mengakui SBY dan PD sebagai realita politik saat ini, sekaligus merupakan PR (public relation) kepada masyarakat, bahwa “kalangan TNI tidak mengenal permusuhan”. Apa yang dapat diperbuat dengan merapat ke PD adalah bagaimana ia dan Gerindra bisa ikut mempengaruhi arah pembangunan Indonesia ke depan dengan konsep yang rasional pro-rakyat. Orang sekaliber SBY barang tentu akan mengakomodasi (walau mungkin tidak seluruhnya) pemikiran-pemikiran yang baik dari Prabowo. Sukur-sukur Prabowo akan mendapat posisi di eksekutif untuk menyalurkan energi, kecerdasan dan komitmennya. Pun, seandainya ia tidak di eksekutif, kader Gerindra bisa memperoleh barang satu posisi di eksekutif, sementara secara jangka panjang ia akan terus menjalin kebersamaan dengan SBY untuk ikut mendukung pencalonannya di 2014. Bukankah bila SBY terpilih kembali, ia tidak bisa mencalonkan dirinya di 2014? Kebersamaan dengan SBY akan lebih memudahkan Prabowo meraih cita-citanya menjadi RI-1 di masa depan, karena lingkungan SBY-Demokrat pasti bukan lingkungan feodal a la PDIP – yang akan menumpulkan kecerdasan Prabowo. .

3. Pilihan ketiga bagi Prabowo-Gerindra adalah tidak masuk ke koalisi manapun, baik koalisi PDIP, koalisi Golkar, maupun koalisi PD (kalau skenario 3 capres akan menjadi kenyataan). Prabowo-Gerindra bisa menjadi partai non blok di parlemen. Partai yang teguh pada konsepsinya, bersifat non blok, dan akan mengatakan benar adalah benar, salah adalah salah. Pilihan terakhir ini belum ada dalam sejarah, dan mungkin ‘gerakan non blok’ Gerindra justeru akan mampu membangun kekuatan untuk lima tahun ke depan. Ini pas sekali dengan apa yang dikatakan ketua Gerindra Fadli Zon, partainya menginginkan perubahan. Tapi perubahan ‘kan bukan hanya milik Anda toh, mas? Kebetulan perubahan versi Gerindra saat ini belum menemukan momentumnya.

Salam Suris

Tags: , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: