Saatnya PD Lepaskan Golkar


Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua Dewan Pembina PD

Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua Dewan Pembina PD

Hasil quick count dari berbagai lembaga survei sampai hari ini (11/04) menunjukkan Partai Demokrat (20%+) mengungguli PDIP (14%+) dan Golkar (14%+).Kendatipun kemenangan Demokrat dianggap ‘biasa-biasa’ saja oleh beberapa elite politik seperti Jefri Geovani (orang PAN yang baru saja lompat ke Golkar) dan Tjahyo Kumolo (PDIP), toh konfigurasi angka hasil quick count telah membuyarkan move-move politik yang telah dilakukan beberapa partai menjelang pemilu lalu.

Reaksi atas keunggulan Demokrat telah nampak sejak kemarin (10/04) ketika Ketua PDIP Megawati Sukarno melakukan pertemuan dengan Ketua Hanura Wiranto, dan hari ini (11/04) bertemu Ketua Gerindra Prabowo. Besok (12/04), Megawati dijadwalkan bertemu Ketua Golkar JK. Kepada pers, baik Wiranto dan Prabowo sama-sama mengaku hanya melakukan komunikasi politik (suatu istilah yang membosankan dan tidak punya news value apapun) dengan Ketua PDIP. Sementara, semalam (10/04) jajaran Golkar melakukan pertemuan di rumah kediaman JK di Menteng. Menarik mencermati komentar salah satu elite Golkar, Theo Sambuaga, kepada pers, yang menyatakan, ia (Theo) cenderung agar Golkar meneruskan koalisi dengan PD. Suatu pernyataan yang menunjukkan betapa kursi eksekutif itu lebih nyaman, ketimbang (hanya duduk di) kursi DPR. Suatu  sikap yang “menjilat ludah sendiri”, mengingat kalangan Golkar dengan yakin telah mengumumkan mereka akan mengusung capresnya sendiri (JK).
Dalam keterangan persnya Jumat (10/04), Ketua Dewan Pembina PD, Susilo Bambang Yudhoyono, menyatakan,  ia (partainya) terbuka pada koalisi dengan semua pihak, tapi dengan kontrak politik yang lebih konseptual. Apakah  pernyataan SBY dapat diartikan Demokrat masih punya minat untuk berkoalisi dengan Golkar? Jawaban pasti tidak mudah diperoleh, mengingat statement SBY mengandung ‘undangan’, tetapi sekaligus melempar tanda tanya – gaya berpolitik khas SBY.

Apa Kabar Koalisi “Golden Triangle”?

Alkisah 21 Maret 2009, Suryadarma Ali (Ketua PPP) ketika bertemu Megawati menggagas adanya koalisi segitiga emas antara PDIP-Golkar-PPP – yang oleh Megawati dalam wawancara dengan Metro TV, dikatakan sebagai partai-partai berpengalaman (pengalaman apa sih maksudnya? Pengalaman kegagalan, atau pengalaman ikut membangun pemerintahan otoriter selama 30 tahun lebih?). Gagasan ”segitiga emas” memang gagah dalam istilah, tetapi maknanya menggiring image ketiga partai tersebut adalah genre partai jadul.

Tapi inilah politik! Hanya selang satu hari setelah hasil quick count yang menyatakan PD unggul dalam pemilu legislatif, partai penggagas ”golden triangle” (PPP) langsung rontok nyalinya, dan serta merta menyatakan, akan meneruskan koalisi dengan Partai Demokrat. Sebuah pernyatan politik yang tidak tahu malu dari partai oportunis yang ukuran keberhasilannya adalah ikut di kabinet – dengan posisi apapun. Sesungguhnya rakyat banyak yang tertawa melihat komedi politik yang dimainkan elite politik sejenis ini, di mana belum satu bulan lalu ramai-ramai  pamer kekuatan untuk menggertak dan menaikkan posisi tawar, eh … begitu lihat hasil quick count, sebagian kembali ke jati dirinya: penjilat dan munafiker yang tak tahu malu. Justeru acungan jempol harus kita berikan kepada Megawati dan PDIP-nya yang tetap teguh berseberangan dengan SBYdan PD-nya. Sebuah keteguhan (minus kebencian Megawati terhadap SBY) yang patut kita hargai.

Kalau hasil pertemuan partai Golkar (yang ditegaskan oleh Jefry Geovani) 21 April 2009 nanti adalah kembalinya Golkar untuk berkoalisi dengan Demokrat, maka sempurnalah pertunjukan badut-badut politik Indonesia di tahun 2009 ini. Mengapa berani ikut pemilu, tapi takut tersingkir dari pemerintahan? Ini menunjukkan, posisi di parlemen dan oposisi, bagi sebagian besar elite politik di negeri ini adalah ”kartu mati” dan ”kering”.

Saatnya Partai Demokrat Pisah dengan Golkar

Bahwa rakyat masih mempercayai SBY dan PD adalah kenyataan. Tetapi bahwa pemerintahan SBY masih perlu memperbaiki program dan pekerjaannya, adalah kenyataan lain. Terkait dengan itu, sudah saatnya PD mengubah struktur dan pola koalisi dengan menjadikan dirinya dominan, sehingga kekuatan di parlemen dan pemerintahan nantinya akan berjalan efektif tanpa digondeli bayang-bayang teman koalisinya yang lebih besar. Gondelan-gondelan di masa pemerintahan sekarang (seperti indikasi menteri yang terlibat korupsi ketika duduk di DPR), sering berlawanan dengan slogan pemerintahan bersih yang didengungkan SBY. Kasus lumpur Lapindo adalah contoh lain bagaimana seorang presiden yang dipilih oleh rakyat (yang nota bene adalah kepala negara) tak mampu memaksa sebuah korporasi untuk melakukan kewajibannya yang berdampak terhadap penderitaan luar biasa terhadap rakyat Sidoarjo.

Jika Partai Demokrat berani memutuskan bercerai dengan Golkar dan sebaliknya berkoalisi dengan partai-partai baru seperti PKS, PKB, PAN, dan apalagi mampu menarik (salah satu atau kedua) partai baru, Gerindra atau Hanura, koalisi yang dibangun Demokrat ini sangat potensial membawa SBY ke jabatan kepresidenan keduanya, yang menurut undang-undang adalah masa kepresidenan terakhirnya. Koalisi tersebut bukan hanya akan memiliki kekuatan formal partai-partai, tetapi sekaligus akan memiliki dukungan luas dari rakyat. Parlemen dan pemerintahan (jika SBY menang) diyakini akan mampu melakukan koreksi dan reformasi terhadap kebijakan-kebijakan yang selama ini dianggap merugikan rakyat.

Sebaliknya, kembali berkoalisi dengan Golkar dan partai islam oportunis PPP, bukan berarti SBY tidak berpeluang untuk kepresidenan kedua. Dengan popularitas dan kepercayaan yang tinggi dari rakyat, diyakini SBY akan mampu mengungguli Megawati. Tetapi keberhasilan SBY dengan koalisi lamanya ini, sudah terbayang, tidak akan mungkin bisa mengakomodasi pendapat dan kritik-kritik yang selama ini dilontarkan oleh partai-partai baru dan tokoh-tokoh lain seperti tokoh TNI Saurip Kadi, yang intinya, negara ini harus mulai merombak dirinya untuk melakukan program-program nyata yang mengedepankan kepentingan rakyat yang 40 juta di antaranya adalah warga miskin dan penganggur. Pilihan ada di SBY. Kepresidenan kedua SBY akan membuktikan apakah ia presiden terbaik selama kurun 70 tahun sejak Indonesia merdeka.

Kita, rakyat Indonesia, yang sebagian hak pilihnya telah dirampas pada pemilu 9 April kemarin (akibat kerja tidak beres dalam penyusunan DPT), ingin melihat tokoh-tokoh nasionalnya bertarung secara berani, jujur, menghormati kemenangan lawan, sekaligus siap menerima kekalahan dalam pilpres 8 Juli dan putaran kedua September 2009 nanti  . Rakyat Indonesa ingin melihat bukti, bukan janji-janji. Ingin melihat pemimpin-pemimpinnya berlaku kesatria demi membangun negara. Kalau kemarin bilang mau maju, jangan kemudian ndak jadi karena takut kalah dan sama sekali hilang peluang masuk kabinet. Kalau kemarin foto tersenyum gagah dengan salah satu capres atas nama koalisi, jangan kemudian colong playu ke capres lainnya yang sedang di atas angin. 

Tiga pasangan capres-cawapres (SBY-….., Megawati-….., JK-……) adalah skenario yang didengungkan oleh para aktor-aktor politik kita dalam bulan-bulan terakhir ini (tentu tidak termasuk aktor Dedy Mizwar, pemeran ”Jenderal Copet” Nagabonar yang berpasangan dengan Jenderal Saurip Kadi). Kita, rakyat Indonesia, siap memilih satu dari ketiga pasangan yang dijanjikan, demi Indonesia yang lebih baik.

Salam Suris

 

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

2 Responses to “Saatnya PD Lepaskan Golkar”

  1. Lowongan Kerja Says:

    Tragis jika PKS betul2 berkoalisi dengan SBY bahlul si pelindung bisnis kafir, saatnya PKS merapat ke partai2 Islam lainnya yang telah mereka gembosi suaranya dan berjuang bersama mereka dan jangan biarkan sebagian umat Islam jadi membenci PKS, demi untuk kemshalahatan umat. INSYA ALLAH!

    Buktikan bahwa dana umat yang telah disedot untuk iklan politik PKS memang benar2 untuk kepentingan umat Islam, bukan kepentingan petinggi PKS saja, buktikan hijaumu PKS!
    Jangan biarkan dirimu dianggap sebagai partai pragmatis dan oportunis, itu memalukan!

    Buat para kader, saatnya kita mawas diri dan berkaca kembali akan manuver2 petinggi PKS yang haus kekuasaan saat ini, mari kembali melayani masyarakat dalam tatanan bermasayarakat yang lebih Islami, daripada sekedar tercuci otak dan terjebak dalam permainan partai!
    Tujuan kita awalnya mendukung PKS adalah untuk mengagungkan Islam, bukan untuk kepentingan kekuasaan para petinggi partai, dan sayangnya banyak kader yang tidak menyadarinya!

    • suriswanto Says:

      Mas/mbak a/n “lowongan kerja”, terimakasih atas komentar anda. Ini adalah ajakan simpatisan PKS kepada rekan-rekan lain untuk mencegah PKS berkoalisi dengan SBY. Padahal koalisi itu telah dilakukan PKS sejak 2004. Mudah-mudahan comment anda dibaca oleh petinggi-petinggi PKS.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: