Profil Purnawirawan Jenderal Capres


Kursi presiden 2009 ternyata mengandung magnet kuat bagi para pensiunan jenderal. Konon, sebagai “pejuang” berasal dari institusi TNI (yang tak diragukan lagi adalah penjaga keutuhan bangsa dan negara,) mereka terpanggil untuk ikut mengatur negara. Mereka adalah Letjen (purn) Sutiyoso (mantan Pangdam Jaya, Gubernur DKI Jaya), Letjen (purn) Prabowo Subianto (mantan Danjen Kopassus, Pangkostrad), Jenderal (purn) Wiranto (mantan Menhankam / Pangab, Menko Polkam), Jenderal (purn) Susilo Bambang Yudhoyono (mantan Kasosopol/Kaster TNI, Menko Polkam, kini masih presiden), dan belakangan Mayjen (purn) Saurip Kadi (Mantan Aster TNI AD) yang tidak jelas mau jadi presiden atau wakil presiden. Inilah profil singkat mereka:
Letjen (purn) Sutiyoso

Letjen purn. Sutiyoso

Sutiyoso (lahir: Semarang 6 Des, 1944; lulusan Akabri Darat 1971). Sebagai gubernur DKI Jakarta, banyak orang mengatakan ia cukup tegas dan berhasil, terutama nampak dalam proyek “bus way”, tapi di masa jabatannya pula, Jakarta diisi pembangunan mal demi mal yang membuat resapan tanah Jakarta makin kurang, serta menjamurnya hypermarket yang tidak jelas lagi manfaatnya bagi perekonomian rakyat; keterlibatannya sebagai Pangdam Jaya atas penyerbuan kantor PDI 1996 belum clear; bicaranya lugas, sarkastis dan terkesan sebagai pemimpin ‘tangan besi’; banyak muncul dalam talkshow sejak 2 tahun terakhir, dan sangat bangga akan kiprahnya sebagai gubernur; ia memiliki tim dan dana kuat; PIS (Partai Indonesia Sejahtera) adalah partai sponsornya untuk pencalonan presiden. 

Letjen purn. Prabowo Subianto (foto: Suara Merdeka)

Letjen purn. Prabowo Subianto (foto: Suara Merdeka)

Prabowo Subianto (lahir: Jakarta, 17 Oktober, 1951; lulusan Akabri Darat 1974). Perwira paling kontroversial sepanjang sejarah TNI; jenis perwira tempur sejati dan suka mem-bypass rantai komando (ingat peristiwa penyanderaan Mapenduma, Irian Jaya, 1997, ketika ia memerintahkan pasukan Kopassus menyerang penyandera, dengan mengabaikan pangdam setempat); dari pengakuan jenderal Kivlan Zein tergambar, pada ’80-an Prabowo adalah sentrum dari kelompok perwira muda (pro Islam) anti Benny Moerdani; statusnya sebagai menantu presiden Soeharto menjadikan ia ‘disegani’ senior dan juniornya di TNI; keterlibatannya dalam kasus penculikan aktivis pro demokrasi sebelum 12 Mei 1998 belum clear, karena TNI memilih ‘mengadilinya’ dalam DKP ketimbang pengadilan umum/sipil, sehingga dalang tertinggi aksi keji tersebut tidak terlacak ; dananya kuat, terlihat dari belanja iklannya yang kini mungkin tak kurang dari 100 miliar rph; tema komunikasi politiknya melalui berbagai iklan partai Gerindra (partai yang didirikannya) lumayan mengena; bila ia tidak melakukan semacam confession terhadap perkara-perkara ‘dark-number’ (seperti penculikan, isu ‘kudeta’ 1998), perjalanannya menuju RI-1 bagai menggendong ‘bom waktu’; Partai Gerindra adalah sponsornya dalam pencalonan presiden, Gus Dur dan PKBnya ikut mendukung Prabowo.

Wiranto

Wiranto

Wiranto (lahir: Solo, 4 April 1947; lulusan AMN 1968). Inilah jenderal panglima yang paling pandai bicara, licin ‘ngeles’ pada pertanyaan-pertanyaan kritis wartawan; orang kepercayaan Soeharto dan Habibie, namun disingkirkan oleh presiden Abdurahman Wahid dari jabatan Menko Polkam; ia sering menonjolkan ‘kearifan’-nya dalam menerima Inpres 16/1998 (sebuah instruksi presiden Soeharto yang memberinya wewenang untuk mengambil langkah luar biasa demi keamanan negara) yang tidak digunakannya; peristiwa-peristiwa besar saat ia menjabat Menhankam/Pangab yakni penembakan di Trisakti dan kerusuhan 12-13 Mei 1998, kerusuhan di Timtim pasca penjajakan pendapat, penanganannya tak pernah tuntas, terkesan perwira ini menghindar dari tanggung jawab (bahkan untuk kerusuhan 12 Mei ’98 yang sangat mengerikan itu, Wiranto cenderung melemparkan ke penanggung jawab lapangan, pangdam dan kapolda; ; banyak jenderal yang dulu menjadi pembantunya saat ia menjabat, kini menjadi pengurus hanura, partai yang didirikannya; ia terlalu cepat ‘mencuri start’ (ingat iklan nasi aking), dan justeru  di saat pemilu legislatif memasuki tahap yang menentukan, iklan Hanura terlihat loyo; ia juga menyimpan ‘bom waktu’ perkara-perkara nasional yang belum clear; Hanura adalah partai yang akan mendukungnya dalam pencalonan presiden.

Jenderal (purn) Susilo Bambang Yudhoyono

Jenderal purn. Susilo Bambang Yudhoyono

Susilo Bambang Yudhoyono (lahir: Pacitan, 9 Sep, 1949; lulusan Akabri Darat 1973). Kalau SBY pandai bicara, tidaklah mengherankan karena pengalaman militernya lebih banyak pada jabatan staf (termasuk sospol) ketimbang jabatan panglima; sang incumbent berpembawaan cool, bicara teratur, santun, dan suka sekali menggunakan frase-frase Inggris (yang terasa kurang menghargai bahasa nasionalnya); pemain politik taktis, nampak sejak ia mencuri start untuk mempromosikan citra dirinya melalui iklan kepedulian Menko Polkam terhadap kedamaian pemilu 2004; pendiri Partai Demokrat dan didukung tim jenderal yang kuat dalam politik dan intelijen; kendatipun terus membantah, jelas ia adalah pemimpin peragu (contohnya, ia tidak tegas terhadap kelompok-kelompok ormas garis keras, dan lebih suka menyampaikan jawaban normatif, padahal rakyat kadang membutuhkan pernyataan dan tindakan tegas yang seketika dari presidennya); sebagai presiden ia terlalu banyak memberi konsesi politik kepada wapresnya, sehingga sering nampak SBY kalah kuasa dibanding wapresnya; hutang terbesarnya adalah masalah “lumpur Lapindo” dan meningkatnya angka pengangguran; pendukung dan dananya kuat; Partai Demokrat adalah sponsor utamanya untuk pencalonan presiden.

Mayjen (purn) Saurip Kadi

Mayjen purn. Saurip Kadi (foto:Budihan/Suris)

Saurip Kadi (lahir: Brebes, 18 Januari, 1951; lulusan Akabri Darat 1973). Dari semua jenderal yang nyapres, dialah jenderal paling tidak terkenal; ia adalah anggota tim reformasi TNI bersama AWK dan SBY (ketua); tahun 2000 dikenal sebagai perwira (bersama AWK) yang digusur oleh petinggi TNI; sebagaimana SBY, Saurip banyak menjabat pada tataran staf, anggota DPR fraksi ABRI, yang menjadikannya matang dalam breeding politik; perwira pemikir yang banyak menulis buku mengenai reformasi TNI dan peran politik TNI; “Mengutamakan Rakyat” adalah bukunya yang diterbitkan 2008, berisikan konsep kenegaraan yang idealis, pro rakyat; banyak orang tidak tahu, ia telah berkeliling ke lebih dari 200 daerah dan sebagian besar adalah kampus, untuk berorasi sekitar pemikiran yang ada dalam buku “MR”nya dan berkali-kali ia menyebut buku itu (MR) boleh dipakai siapapun yang mau nyapres; ia orang pertama yang menggugat UU Pilpres No.42/2008 di MK; kendala popularitas rendah nampaknya membuat Saurip menggandeng aktor Dedy Mizwar untuk attract the voters, dan ia ‘mengalah’ menjadi wapres; kendala lain adalah ia tidak tergabung dalam satupun partai; konon belasan partai (yang belum meyakinkan akan melewati parliamentary threshold) akan mensponsorinya untuk pencalonan presiden (atau wapres?).

UU No. 42/2008 yang mensyaratkan capres dan cawapres diajukan oleh partai (atau gabungan partai) pemenang 20% kursi DPR atau 25% hasil suara pemilu, akan menjadikan beberapa jenderal capres di atas akan tumbang sebelum putaran pertama dimulai. Jenderal Sutiyoso dan Saurip, misalnya, apakah partai-partai pendukung mereka yang relatif ‘anak bawang’ mampu mengumpulkan 20% suara parlemen? Tidak mustahil pula, satu di antara jenderal Prabowo dan Wiranto akan kesulitan mencari partai-partai lain untuk berkoalisi, jika perolehan partai pendukung kedua jenderal itu hanya di bawah 5%.  Kalau Jenderal Kivlan Zein, dan M Yassin (sebelumnya adalah pendukung SBY) dari partai Pakar Pangan ikut mendeklarasikan diri sebagai capres, suara pemilih akan semakin pecah, dan yang akan memperoleh peluang dari kompetisi “Divisi All Stars” ini justeru SBY, sang incumbent yang kendati dari hari ke hari diserang oleh lawan-lawannya, tapi partai pendukunganya (PD) nampak solid, dan ia tetap mampu menunjukkan dirinya cool, santun, percaya diri. Nah, di tengah performance capres-capres sipil (Megawati, JK, Sri Sultan HB X) yang belum juga impresif, lagi-lagi justeru SBY nampak paling berpeluang. Tapi, mari tunggu hasil pencontrengan pileg 9 April 2009.

Salam Suris

Tags: , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: